BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Obat saluran nafas atau obat
yang bekerja pada sistem pernafasan terbagi dari 3 golongan yaitu :
Asma adalah suatu keadaan
dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap
rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; dimana penyempitan ini
bersifat sementara.
PPOK singkatan dari Penyakit
Paru Obstruktif Kronis, artinya penyakit paru yang menghambat kerja paru-paru
secara normal yang menahun. Dua bentuk utama dari penyakit PPOK ialah
Bronkhitis kronis dan Emfisema, Pada kenyataannya kedua bentuk itu sering
bersamaan dan disebut sebagai Bronkhitis – Emfisema.
Bronkhitis Kronis maksudnya
adalah peradangan saluran napas kronis ditandai dengan batuk berdahak minimal
tiga bulan dalam setahun, sekurang-kurangnya dua tahun berturut-turut dan bukan
disebabkan oleh penyakit lain.Sedangkan Emfisema adalah pelebaran
gelembung-gelembung paru disertai kerusakan dindingnya sehingga beberapa
gelembung paru menjadi satu.
Keluhan dan gejala utama PPOK
adalah sesak napas yang menetap dan makin lama makin berat. Gambaran kliniknya,
biasanya orang berusia di atas 45 tahun dengan riwayat merokok atau bekas
perokok dan merasa cepat capai bila berjalan cepat, naik tangga. Pada penderita
PPOK yang sudah berat dapat dilihat pada dada yang menggembung (seperti
gentong) dan batuk yang selalu bereak.
Bentuk sediaan obat saluran
nafas untuk asma dan PPOK saat ini sudah sangat beragam sehingga lebih
memudahkan dan meningkatkan kedisiplinan penggunanya. Mulai dari tablet atau
kapsul lepas lambat, inhaler, diskhaler, rotahaler bahkan ada yang tetes untuk
bayi bagi yang tidak punya alat nebulizer.
Untuk permasalahan batuk dan
pilek, banyak sekali sediaan obat saluran nafas golongan ini dan mereknya yang
dijual bebas di pasaran Indonesia. Sehingga dibutuhkan ketelitian pembeli dalam
memilih obat saluan nafas ini. Yang perlu diperhatikan adalah jenis batuk
penderita apakah batuk kering atau batuk berdahak.
Untuk masalah pilek yang perlu
diperhatikan apakah yang mengandung zat yang mengurangi konsentrasi atau tidak,
saat ini sudah ada dalam satu kemasan dua macam obat untuk waktu beraktivitas
dan waktu istirahat.
Obat saluran nafas golongan
dekongestan digunakan dengan tujuan untuk memperlancar pernafasan di hidung.
Bentuk sediaan yang tersedia bisa tablet lepas lambat, sirup dan drop, balsam,
inhaler, tetes hidung atau semprot hidung. Untuk pemakaian semprot hidung
baiknya konsultasi dulu ke dokter.
Untuk pemilihan obat saluran
nafas yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke
dokter .
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Sebutkan
macam-macam obat saluran pennapasan?
2.
Bagaimana
cara kerja obat saluran pernapasan?
3.
Indikasi
dan kontraindikasi penggunaan obat saluran napas.
4.
Efek
samping dari cara kerja obat saluran pernapasan?
5.
Dosis
yang digunakan obat saluran pernapasan?
6.
Cara
mengatasi obat saluran pernapasan?
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui
macam-macam obat saluran pennapasan?
2.
Mengetahui
cara kerja obat saluran pernapasan?
3.
Mengetahui
indikasi dan kontraindikasi penggunaan obat saluran napas.
4.
Mengetahui efek samping dari cara kerja obat
saluran pernapasan?
5.
Mengetahui
dosis yang digunakan obat saluran pernapasan?
6.
Mengetahui
cara mengatasi obat saluran pernapasan?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
OBAT SALURAN PERNAPASAN
Obat saluran
pernapasan adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan saluran pernapasan seperti penyakit asma, bronchitis kronis,
dan emfisema paru dan batuk.
B.
MACAM-MACAM
OBAT SALURAN PERNAPASAN
Adapun macam obat
saluran pernapasan adalah sebagai berikut:
|
|
|
||
![]() |
|
|
|
![]() |
|
|
|
|
|
|
![]() |
|
|
|
|
||
|
|
|
||
|
|
|
|
|
C.
CARA
KERJA OBAT
DOXYCYCLINE
DOXYCYCLINE adalah antibiotika
dengan aktivitas antimikroba yang luas. Efektif terhadap bakteri Gram-negatif,
seperti Sterptococcus, Staphylococcus, Bacillus anthracis, Brucella spp.,
Mycoplasma, Klebsiela spp., Treponema pallidum, Rickettsia.
DOXYCYCLINE diabsorpsi dengan cepat dan baik dari saluran pencernaan dan tidak tergantung dari adanya makanan.
DOXYCYCLINE diekskresi melalui urin dan feses.
DOXYCYCLINE diabsorpsi dengan cepat dan baik dari saluran pencernaan dan tidak tergantung dari adanya makanan.
DOXYCYCLINE diekskresi melalui urin dan feses.
SPIRAMYCIN 250 mg DAN SPIRAMYCIN DEXAMEDICA
Spiramisin adalah antibiotik makrolida yang dihasilkan
oleh Streptomyces ambofaciens yang bekerja dengan cara menghambat
sintesa protein bakteri. Spiramisin efektif terhadap kuman stafilokokus,
streptokokus, pneumokokus, Bordetella pertusis.
D. INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI OBAT
Indikasi:
Penyakit saluran napas akut dan kronis yang disertai sekresi bronkial yang abnormal, khususnya pada eksaserbasi dan bronkitis kronis, bronkitis asmatik, asma bronkial.
Penyakit saluran napas akut dan kronis yang disertai sekresi bronkial yang abnormal, khususnya pada eksaserbasi dan bronkitis kronis, bronkitis asmatik, asma bronkial.
Kontra
Indikasi:
Hipersensitif terhadap ambroksol.
Hipersensitif terhadap ambroksol.
Indikasi:
Untuk meringankan dan mengatasi serangan asma bronkial.
Kontra Indikasi:
- Penderita hipersensitif terhadap obat ini
- Penderita tukak lambung, hipertyroid, jantung, diabetes, hipertensi.
Untuk meringankan dan mengatasi serangan asma bronkial.
Kontra Indikasi:
- Penderita hipersensitif terhadap obat ini
- Penderita tukak lambung, hipertyroid, jantung, diabetes, hipertensi.
Indikasi:
Meredakan sakit tenggorokan, nyeri akibat sariawan, iritasi ringan pada mulut, tenggorokan dan bibir.
Kontra Indikasi:
N/A
Meredakan sakit tenggorokan, nyeri akibat sariawan, iritasi ringan pada mulut, tenggorokan dan bibir.
Kontra Indikasi:
N/A
Indikasi:
Untuk meringankan gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat dan bersin-bersin.
Kontra Indikasi:
- Penderita dengan gangguan jantung dan diabetes mellitus
- Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat
- Penderita dengan hipersensitif terhadap komponen obat ini
Untuk meringankan gejala flu seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat dan bersin-bersin.
Kontra Indikasi:
- Penderita dengan gangguan jantung dan diabetes mellitus
- Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat
- Penderita dengan hipersensitif terhadap komponen obat ini
Indikasi:
Untuk mencegah asma bronkial.
Kontra Indikasi:
N/A
Untuk mencegah asma bronkial.
Kontra Indikasi:
N/A
Indikasi:
Untuk meringankan dan mengatasi serangan asma bronkial.
Kontra Indikasi:
Pasien yang diketahui hipersensitif terhadap derivat aktif yang terkandung dalam obat ini, penderita tukak lambung, hipertiroid, jantung, diabetes dan hipertensi.
Untuk meringankan dan mengatasi serangan asma bronkial.
Kontra Indikasi:
Pasien yang diketahui hipersensitif terhadap derivat aktif yang terkandung dalam obat ini, penderita tukak lambung, hipertiroid, jantung, diabetes dan hipertensi.
Indikasi:
Spiramisin digunakan untuk infeksi saluran napas, seperti tonsilitis, faringitis, bronkitis, pneumonia, sinusitis dan otitis media.
Kontra Indikasi:
Pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap spiramisin atau antibiotik makrolida lainnya.
Spiramisin digunakan untuk infeksi saluran napas, seperti tonsilitis, faringitis, bronkitis, pneumonia, sinusitis dan otitis media.
Kontra Indikasi:
Pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap spiramisin atau antibiotik makrolida lainnya.
Indikasi:
Mengatasi serangan asma dan sesak nafas
Kontra Indikasi:
- Penderita yang hipersensitif terhadap theophyllin dan ephedrin
- Penderita tukak lambung, hipertyroid, penyakit jantung, diabets, dan hipertensi.
Mengatasi serangan asma dan sesak nafas
Kontra Indikasi:
- Penderita yang hipersensitif terhadap theophyllin dan ephedrin
- Penderita tukak lambung, hipertyroid, penyakit jantung, diabets, dan hipertensi.
Indikasi:
Eksaserbasi akut bronkitis kronik, pneumonia di masyarakat (bukan penularan di rumah sakit), sinusitis bakterial akut (didiagnosa secara akurat).
Kontra Indikasi:
Hipersensitif dengan setiap komponen tablet/infus atau kuinolon lainnya, kehamilan dan menyusui, anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh, pasien dengan riwayat penyakit/kelainan tendon akibat terapi kuinolon, perpanjangan QT yang didapat maupun kongenital, gangguan elektrolit khususnya hipokalemia, bradikardia yang relavan secara klinis, gagal jantung dengan pengurangan fraksi ejeksi ventrikel kiri yang relevan secara klinis, riwayat aritmia asimtomatik.
Eksaserbasi akut bronkitis kronik, pneumonia di masyarakat (bukan penularan di rumah sakit), sinusitis bakterial akut (didiagnosa secara akurat).
Kontra Indikasi:
Hipersensitif dengan setiap komponen tablet/infus atau kuinolon lainnya, kehamilan dan menyusui, anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh, pasien dengan riwayat penyakit/kelainan tendon akibat terapi kuinolon, perpanjangan QT yang didapat maupun kongenital, gangguan elektrolit khususnya hipokalemia, bradikardia yang relavan secara klinis, gagal jantung dengan pengurangan fraksi ejeksi ventrikel kiri yang relevan secara klinis, riwayat aritmia asimtomatik.
Doxyciline
Indikasi:
Infeksi saluran pernafasan, seperti pneumonia, bronkitis, tonsilitis, nasofaringitis.
Infeksi uroginetal, infeksi saluran pencernaan, infeksi pada kulit dan jaringanlunak.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap tetrasiklin.
Infeksi saluran pernafasan, seperti pneumonia, bronkitis, tonsilitis, nasofaringitis.
Infeksi uroginetal, infeksi saluran pencernaan, infeksi pada kulit dan jaringanlunak.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap tetrasiklin.
Neo Napacin
Indikasi:
Meringankan sesak nafas.
Kontra Indikasi:
- Penderita hipertensi, jantung dan diabetes
- Jangan diberikan 12 jam setelah pemberian secara rektal preparat lain yang mengandung Teophyllin dan Epedrine.
- Penderita Hipersensitif terhadap obat ini.
Meringankan sesak nafas.
Kontra Indikasi:
- Penderita hipertensi, jantung dan diabetes
- Jangan diberikan 12 jam setelah pemberian secara rektal preparat lain yang mengandung Teophyllin dan Epedrine.
- Penderita Hipersensitif terhadap obat ini.
Indikasi:
Untuk mencegah asma bronkial.
Kontra Indikasi:
N/A
Untuk mencegah asma bronkial.
Kontra Indikasi:
N/A
Rulid
Indikasi:
Infeksi saluran nafas atas dan bawah, kelamin (kecuali gonokokal), kulit dan jaringan lunak. Pencegahan meningitis meningokok.
Kontra Indikasi:
Kombinasi dengan ergotamin atau dihidroergotamin. Alergi.
Infeksi saluran nafas atas dan bawah, kelamin (kecuali gonokokal), kulit dan jaringan lunak. Pencegahan meningitis meningokok.
Kontra Indikasi:
Kombinasi dengan ergotamin atau dihidroergotamin. Alergi.
Indikasi:
Spiramisin digunakan untuk infeksi saluran nafas, seperti tonsilitis, faringitis, bronkitis, pneumonia, sinusitis, otitis media dan toksoplasmosis.
Kontra Indikasi:
Pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap spiramisin atau antibiotik makrolida lainnya.
Spiramisin digunakan untuk infeksi saluran nafas, seperti tonsilitis, faringitis, bronkitis, pneumonia, sinusitis, otitis media dan toksoplasmosis.
Kontra Indikasi:
Pasien dengan riwayat hipersensitif terhadap spiramisin atau antibiotik makrolida lainnya.
E.DOSIS
YANG DIGUNAKAN
|
Dosis:
Dewasa: sehari 3 kali 1 tablet.
Anak-anak 5 - 12 tahun : sehari 3 kali 1/2 tablet.
Anak-anak 2 - 5 tahun : sehari 3 kali 7,5 mg
Anak-anak di bawah 2 tahun : sehari 2 kali 7,5 mg
Dosis dapat dikurangi menjadi 2 kali sehari, untuk pengobatan yang lama.
Harus diminum sesudah makan.
Dewasa: sehari 3 kali 1 tablet.
Anak-anak 5 - 12 tahun : sehari 3 kali 1/2 tablet.
Anak-anak 2 - 5 tahun : sehari 3 kali 7,5 mg
Anak-anak di bawah 2 tahun : sehari 2 kali 7,5 mg
Dosis dapat dikurangi menjadi 2 kali sehari, untuk pengobatan yang lama.
Harus diminum sesudah makan.
|
Dosis:
Dewasa: 2 x sehari 1 sendok teh setelah makan pagi dan malam.
Bila perlu dosis dapat dinaikkan menjadi 2 x sehari 2 sendok teh.
Anak 3 tahun atau lebih: 2 x sehari 1 sendok teh setelah makan pagi dan malam, penderita yang mudah mengalami sedasi dianjurkan mulai pengobatan dengan 1x sehari 1/2–1 sendok teh di malam hari selama beberapa hari pertama.
Anak 1–3 tahun: 2x sehari 1/2 sendok teh.
Dewasa: 2 x sehari 1 sendok teh setelah makan pagi dan malam.
Bila perlu dosis dapat dinaikkan menjadi 2 x sehari 2 sendok teh.
Anak 3 tahun atau lebih: 2 x sehari 1 sendok teh setelah makan pagi dan malam, penderita yang mudah mengalami sedasi dianjurkan mulai pengobatan dengan 1x sehari 1/2–1 sendok teh di malam hari selama beberapa hari pertama.
Anak 1–3 tahun: 2x sehari 1/2 sendok teh.
Prinasma
Dosis dan Aturan Pakai:
Dewasa:3 kali sehari 1 tablet.
Anak-anak 6 - 12 tahun: 3 kali sehari 1/2 tablet atau menurut petunjuk dokter.
Dewasa:3 kali sehari 1 tablet.
Anak-anak 6 - 12 tahun: 3 kali sehari 1/2 tablet atau menurut petunjuk dokter.
Spiramycin 250 mg
Dosis:
Dewasa : Sehari tiga kali 500 mg, selama 5 hari. Pada infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan sampai maksimal 3.000 mg/hari.
Anak-anak : Sehari 50-100 mg/kg berat badan terbagi dalam 2-3 dosis
Avelox
Dewasa : Sehari tiga kali 500 mg, selama 5 hari. Pada infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan sampai maksimal 3.000 mg/hari.
Anak-anak : Sehari 50-100 mg/kg berat badan terbagi dalam 2-3 dosis
Avelox
Dosis dan
Cara Pemberian:
Dosis anjuran untuk moxifloxacin adalah 400 mg satu kali sehari. Cairan infus harus digunakan secara intravena selama 60 menit.
Doxiline
Dosis anjuran untuk moxifloxacin adalah 400 mg satu kali sehari. Cairan infus harus digunakan secara intravena selama 60 menit.
Doxiline
|
|
Dosis:
- Anak-anak > 8 tahun dengan berat badan < 45 kg:
4.4 mg/kg berat badan per hari dengan interval 12 jam pada hari pertama, selanjutnya 2.2 mg/kg berat badan per hari.
- Dewasa dan anak-anak > 8 tahun dengan berat badan >= 45 kg:
200 mg setiap 12 jam pada hari pertama, selanjutnya 100 mg per hari.
Pada kasus infeksi berat, baik pada orang dewasa maupun anak-anak, dosis awal dapat diberikan setiap 12 jam selama diperlukan.
Pengobatan harus dilanjutkan paling sedikit 24 jam sampai 48 jam setelah tanda-tanda dan gejala reda. Pada infeksi Streptococcus, pengobatan harus dilanjutkan peling sedikit 10 hari. Atau menurut petunjuk dokter.
- Anak-anak > 8 tahun dengan berat badan < 45 kg:
4.4 mg/kg berat badan per hari dengan interval 12 jam pada hari pertama, selanjutnya 2.2 mg/kg berat badan per hari.
- Dewasa dan anak-anak > 8 tahun dengan berat badan >= 45 kg:
200 mg setiap 12 jam pada hari pertama, selanjutnya 100 mg per hari.
Pada kasus infeksi berat, baik pada orang dewasa maupun anak-anak, dosis awal dapat diberikan setiap 12 jam selama diperlukan.
Pengobatan harus dilanjutkan paling sedikit 24 jam sampai 48 jam setelah tanda-tanda dan gejala reda. Pada infeksi Streptococcus, pengobatan harus dilanjutkan peling sedikit 10 hari. Atau menurut petunjuk dokter.
|
Dosis:
Dewasa: 2 x sehari 1 tablet setelah makan pagi dan malam.
Anak 3 tahun atau lebih: 2 x sehari 1 tablet setelah makan pagi dan malam, penderita yang mudah mengalami sedasi dianjurkan mulai pengobatan dengan 1x sehari 1/2–1 tablet di malam hari selama beberapa hari pertama.
Anak 1–3 tahun: 2x sehari 1/2 tablet.
Dewasa: 2 x sehari 1 tablet setelah makan pagi dan malam.
Anak 3 tahun atau lebih: 2 x sehari 1 tablet setelah makan pagi dan malam, penderita yang mudah mengalami sedasi dianjurkan mulai pengobatan dengan 1x sehari 1/2–1 tablet di malam hari selama beberapa hari pertama.
Anak 1–3 tahun: 2x sehari 1/2 tablet.
Rulid
Dosis:
Dewasa: 150 mg dua kali sehari.
Dewasa: 150 mg dua kali sehari.
Anak 20 - 40 kg: 100 mg dua kali
sehari.
|



No comments:
Post a Comment