Saturday, 3 January 2015

FILSAFAT ILMU


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Pada hakikatnya dalam diri manusia terdapat potensi-potensi kejiwaan yang sangat menentukan bagi diri dan keberadaan manusia itu sendiri mengungguli makhluk-makhluk lainnya, sehingga setiap perbuatan selalu diawali dengan perhitungan-perhitungan logis.
Ketika manusia menghadapi sesuatu, secara otomatis selalu muncul pertanyaan sebagai wujud dari rasa ingin tahu. Perasaan itu akan mendorong keingintahuannya untuk mengerti dengan benar dan kebenaran dari semua itu. Kejelasan mengenai sesuatu tersebut kemudian menimbulkan penilaian apakah sesuatu itu berguna atau tidak.
Rasa ingin tahu yang sampai pada akar-akarnya adalah merupakan pertanda filsafat sudah mulai ada, oleh karena itu kami menyelesaikan makalah ini atas dasar sebagai tugas kelompok untuk menemukan titik kebenaran dari masalah-masalah yang kita temukan dalam persentase kelompok. Dari proses persentaselah kita pasti berfilsafat.
Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para Dewa. Karenanya para Dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian disembah. Adanya perkembangan jaman, maka dalam beberapa hal pola pikir tergantung pada Dewa berubah menjadi pola pikir berdasarkan rasio. Kejadian alam, seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai bulan dimakan Kala Rau, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan dan bumi berada pada garis yang sejajar. Sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.
Perubahan pola pikir dari mitosentris ke logosentris membawa implikasi yang sangat besar. Alam dengan segala-galanya, yang selama ini ditakuti kemudian didekati dan bahkan dieksploitasi. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik di jagat raya (makrokosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos). Melalui pendekatan logosentris ini muncullah berbagai pengetahuan  yang sangat berguna bagi umat manusia maupun alam.
Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari proses kehidupan manusia menjadi tahu. Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu.
Berdasarkan atas pengertian yang ada dan berdasarkan atas kebiasaan yang terjadi, sering ditemukan kerancuan antara pengertian ilmu dengan pengetahuan. Ke dua kata tersebut dianggap memiliki persamaan arti, bahkan ilmu dan pengetahuan terkadang  dirangkum menjadi satu kata majemuk yang mengandung arti tersendiri. Hal ini sering kita jumpai dalam berbagai karangan yang membicarakan tentang ilmu pengetahuan. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu disamakan dengan pengetahuan, sehingga ilmu adalah pengetahuan. Namun jika kata pengetahuan dan kata ilmu tidak dirangkum menjadi satu kata majemuk atau berdiri sendiri, akan tampak perbedaan antara keduanya. Berdasarkan asal katanya, pengetahuan diambil dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge.  Sedangkan pengetahuan berasal dari kata Science. Tentunya dari dua asal kata itu mempunyai makna yang berbeda.
B.            Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat diangkat permasalahan :
1.         Dari mana asalnya filsafat itu?
2.         Apakah filsafat itu?
3.         Apakah ada perbedaan antara ilmu dengan pengetahuan?
4.         Bagaimana perbedaan antara ilmu dengan pengetahuan ?
C.           Tujuan penulisan
Agar kita dapat memahami dan mengetahui serta nantinya bisa mengungkapkan secara detail arti filsafat ilmu, persamaan dan perbedaan antara ilmu dan pengetahuan secara Etimologi dan Terminologi. Dan semoga kami sukses dalam mempersentasekan makalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut bentuk kata, philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos. Philos berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Dalam pengertian ini seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila seluruh ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.
Pada awalnya, kata sofia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu pekerjaan, seperti perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan selanjutnya, makna dari kata kemahiran ini lebih dikhususkan lagi untuk kecakapan di bidang sya’ir dan musik. Makna ini kemudian berkembang lagi kepada jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni. Sofia dalam arti yang terakhir ini, kemudian dirumuskan oleh Pythagoras bahwa hanya Dzat Maha Tinggi (Allah) yang mampu melakukannya. Oleh karena itu, manusia hanya dapat sampai pada sifat “pencipta kebijaksanaan”. Pythagoras menyatakan: “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan berusaha untuk mencapainya.
Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat diambil dari bahasa Yunani, filosofia. Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut Hadiwijono filsafat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan. Artinya, seseorang dapat disebut berfilsafat ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih berarti sebagai himbauan kepada kebijaksanaan.
Harun justru membuat kompromi bahwa filsafat terambil dari dua bahasa, yaitu Fil diambil dari bahasa Inggris dan Safah dari bahasa Arab. Sehingga kata filsafat, adalah gabungan antara bahasa Inggris dan Arab. Berfilsafat artinya berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya. Atas dasar itu, maka menurut Harun, secara etimologi filsafat dapat didefinisikan sebagai:
1.         Pengetahuan tentang hikmah
2.         Pengetahuan tentang prinsip atau dasar
3.         Mencari kebenaran
4.         Membahas dasar dari apa yang dibahas
Menurut Mohammad Hatta, filsafat dapat meluaskan pandangan,  mempertajam pikiran, serta merentangkan pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata. Sebab itu filsafat dapat disebut juga berpikir merdeka dengan tiada dibatasi kelanjutannya. Filsafat meninjau dengan pertanyaan “apa itu”, “dari mana” dan “kemana”. Disini orang tidak mencari pengetahuan sebab akibat suatu masalah seperti halnya penyelidikan ilmu melainkan orang mencari tahu tentang apa yang sebenarnya ada pada barang atau masalah itu, dari mana asalnya dan kemana tujuannya.
Dengan ini dapat kita ketahui bahwa banyak orang yang berpendapat tentang filsafat ilmu, oleh sebab itu untuk mendefinisikan filsafat ilmu secara sederhana didapat kesulitan. Untuk mendapatkan gambar singkat tentang pengertian filsafat ilmu itu dapatlah kiranya dirangkum tiga medan telaah yang tercakup di dalam filsafat ilmu tersebut:
1.         Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambang-lambang yang digunakan dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan. Telaah kritis ini dapat diarahkan untuk mengkaji ilmu empiric dan juga ilmu rasional, juga untuk membahas studi-studi bidang etika dan estetika, studi kesejarahan, antropologi, geologi, dan sebagainya. Dalam hubungan ini yang terutama sekali ditelaah adalah ihwal penalaran dan teorinya. Metode yang ditelaah untuk diangkat adalah biasa dinyatakan dengan istilah induktif, deduktif, hipotesis, penemuan, verifikasi. Yang lebih mendalam lagi adalah telaah terhadap metode yang dinyatakan dengan istilah eksperimentasi, pengukuran, klasifikasi, dan idealisasi. Demikian yang paling banyak mendapat perhatian dalam telaah kritis ini adalah teori umum mengenai lambang.
2.         Filsafat ilmu adalah upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep dan postulat mengenai ilmu dan upaya membuka tabir dasar-dasar ke-empirisan, ke-rasional-an dan ke-pragmatis-an. Aspek filsafat ini erat hubungannya dengan hal ihwal yang logis dan epistemologis. Jadi peran filsafat ilmu disini adalah berganda. Pada sisi pertama, filsafat ilmu adalah mencakup analisis kritis terhadap anggapan dasar. Pada sisi yang lain, filsafat ilmu mencakup studi mengenai keyakinan tertentu.
3.         Filsafat ilmu adalah studi gabungan yang terdiri dari beberapa studi beraneka macam yang ditujukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu, untuk menguraikan pertautan atau antar hubungan yang ada pada studi yang satu terhadap yang lain, dan untuk mengkaji implikasi sumbangannya terhadap suatu teori, bak teori yang besifat semesta maupun teori yang unsur-unsurnya terpakai dimana-mana. Yang termasuk teori dengan sifat kesemestaannya ialah yang berkenaan dengan idealisme, materialisme, positivisme, mekanisme, teologi, monisme, dan pluralisme.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam, baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Bahkan menurut Moh. Hatta dan Langeveld mengatakan bahwa defenisi filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri dalam defenisinya. Oleh karena itu, biarkan saja seseorang meneliti filsafat terlebih dahulu kemudian menyimpulkan sendiri.

B.            Perbedaan antara Ilmu dan Pengetahuan
Sebelum penjabaran tentang perbedaan ilmu dan pengetahuan, perlu diuraikan tentang pengertian ilmu dan pengetahuan. Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam mendalami perbedaan antara ilmu dan pengetahuan.
1.         ilmu
Pada prinsipnya ilmu merupakan usaha untuk mengorganisir dan mensitematisasikan sesuatu. Sesuatu tersebut dapat diperoleh dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun sesuatu itu dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir secara objektif (objective thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual. Ini diperoleh melalui observasi, eksperimen, dan klasifikasi. Analisisnya merupakan hal yang objektif dengan menyampingkan unsur pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh kedirian atau subjektif). Ilmu sebagai milik manusia secara komprehensif yang merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia.
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Namun bukan sebaliknya kumpulan ilmu adalah pengetahuan. Kumpulan pengetahuan agar dapat dikatakan ilmu harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek material dan objek formal. Setiap bidang ilmu baik itu ilmu khusus maupun ilmu filsafat harus memenuhi ke dua objek tersebut. Ilmu merupakan suatu bentuk aktiva yang dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu lebih lengkap dan lebih cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan kemudian serta suatu kemampuan yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya.
Ada tiga dasar ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dasar ontologi ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Jadi masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau bersifat empiris. Objek empiris dapat berupa objek material seperti ide-ide, nilai-nilai, tumbuhan, binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri.
Pada umumnya metodologi yang digunakan dalam ilmu kealaman disebut siklus-empirik. Ini menunjukkan pada dua macam hal yang pokok, yaitu siklus yang mengandaikan adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan berulang-ulang, dan empirik yang menunjukkan pada sifat bahan yang diselidiki, yaitu hal-hal yang dalam tingkatan pertama dapat diregistrasi secara indrawi. Metode siklus-empirik mencakup lima tahapan yang disebut observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi. Sifat ilmiahnya terletak pada kelangsungan proses yang runut dari segenap tahapan prosedur ilmiah tersebut, meskipun pada prakteknya tahap-tahap kerja tersebut sering kali dilakukan secara bersamaan.
Ilmu dalam usahanya untuk menyingkap rahasia-rahasia alam haruslah mengetahui anggapan-anggapan kefilsafatan mengenai alam tersebut. Penegasan ilmu diletakkan pada tolok ukur dari sisi fenomenal dan struktural.
2.         Pengetahuan  
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge.  Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa difinisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).
Sedangkan secara terminologi definisi pengetahuan ada beberapa definisi.
a.         Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu.  Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai.  Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
b.         Pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam hal ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
c.         Pengetahuan adalah segenap apa yang kita ketahui tentang  suatu objek tertentu, termasuk didalamnya ilmu, seni dan agama. Pengetahuan ini merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung dan tak langsung memperkaya kehidupan kita.
Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal, atau yang bersangkutan dengan masalah kejiwaan.
Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense,  tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu.  Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.



BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
 Filsafat ilmu memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan keilmuan. Filsafat ilmu merupakan refleksi secara filsafati akan hakekat ilmu yang tidak akan mengenal titik henti dalam menuju sasaran yang hendak dicapai, yaitu kebenaran dan kenyataan. Memahami filsafat ilmu berarti memahami seluk-beluk ilmu pengetahuan hingga segi-segi dan sendi-sendinya yang paling mendasar, untuk dipahami pula perspektif ilmu, kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar (cabang) ilmu yang satu dengan yang lainnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa melalui upaya filsafat ilmu, seseorang dapat meninjau dasar dan kedalaman ilmu hingga ke hakekatnya.
Tujuan filsafat ilmu adalah memberikan pemahaman tentang apa dan bagaimana hakekat, sifat dan kedudukan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam cakrawala pengetahuan  manusia. Di  samping  itu filsafat  ilmu  juga  memperluas  wawasan  ilmiah sebagai kesiapan dalam menghadapi perkembangan ilmu dan teknologi yang berlangsung dengan begitu cepat, spektakuler, mendasar, yang secara intensif menyentuh semua segi dan sendi kehidupan dan secara intensif merombak budaya manusia.
B.            Saran-saran
1.         Pentingnya pemahaman filsafat ilmu perlu disosialisasikan sejak awal kepada mahasiswa ilmu politik dan pemerintahan agar mereka lebih terbuka wawasan ilmiahnya, bahwasanya filsafat, ilmu, dan pengetahuan adalah saling terkait dan tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
2.         Memasukkan mata kuliah filsafat ilmu ke dalam kurikulum sudah tepat dalam kerangka peningkatan mutu akademik. Untuk lebih menarik minat khalayak dalam mempelajari filsafat ilmu, serta untuk menghilangkan ‘trauma’ bahwa bidang ini adalah sesuatu yang sulit dipelajari, maka penulisan/ publikasi buku-buku tentang filsafat ilmu bisa diusahakan lebih populer serta bersifat elementer agar tidak terkesan ‘berat’ dan lebih mudah ‘dicerna’.
3.         Kepada pembaca makalah ini kami harap dapat membantu anda untuk mengetahui dan memahami isi makalah kami dalam proses belajar khususnya filsafat ilmu. Kami sangat berharap mendapat tambahan kritik dan sarannya, bila pembaca lebih banyak mengetahui tentang filsafat ilmu, karena kami merasa bahwa makalah yang kami buat masih sangat sederhana dan memiliki banyak kekurangan.




* Terima Kasih *





DAFTAR PUSTAKA
Lasiyo dan Yuwono. 1985. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Liberty.
Mustansyir, Rizal dan Misnal Munir. 2001.  Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Peursen, C.A. Van. 1989. Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Gramedia.
The Liang Gie. 1999. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.
Bakhtiar A. 2005. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

No comments:

Post a Comment