BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pada
hakikatnya dalam diri manusia terdapat potensi-potensi kejiwaan yang sangat
menentukan bagi diri dan keberadaan manusia itu sendiri mengungguli
makhluk-makhluk lainnya, sehingga setiap perbuatan selalu diawali dengan
perhitungan-perhitungan logis.
Ketika
manusia menghadapi sesuatu, secara otomatis selalu muncul pertanyaan sebagai
wujud dari rasa ingin tahu. Perasaan itu akan mendorong keingintahuannya untuk
mengerti dengan benar dan kebenaran dari semua itu. Kejelasan mengenai sesuatu
tersebut kemudian menimbulkan penilaian apakah sesuatu itu berguna atau tidak.
Rasa
ingin tahu yang sampai pada akar-akarnya adalah merupakan pertanda filsafat
sudah mulai ada, oleh karena itu kami menyelesaikan makalah ini atas dasar
sebagai tugas kelompok untuk menemukan titik kebenaran dari masalah-masalah
yang kita temukan dalam persentase kelompok. Dari proses persentaselah kita
pasti berfilsafat.
Awalnya bangsa Yunani dan bangsa
lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh
para Dewa. Karenanya para Dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian
disembah. Adanya perkembangan jaman, maka dalam beberapa hal pola pikir
tergantung pada Dewa berubah menjadi pola pikir berdasarkan rasio. Kejadian
alam, seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai bulan dimakan Kala Rau,
tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan dan bumi
berada pada garis yang sejajar. Sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian
permukaan bumi.
Perubahan pola pikir dari
mitosentris ke logosentris membawa implikasi yang sangat besar. Alam dengan
segala-galanya, yang selama ini ditakuti kemudian didekati dan bahkan
dieksploitasi. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan
teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik di jagat raya
(makrokosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos). Melalui pendekatan logosentris
ini muncullah berbagai pengetahuan yang
sangat berguna bagi umat manusia maupun alam.
Pengetahuan tersebut merupakan
hasil dari proses kehidupan manusia menjadi tahu. Pengetahuan adalah apa yang
diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan
itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses
usaha manusia untuk tahu.
Berdasarkan atas pengertian yang
ada dan berdasarkan atas kebiasaan yang terjadi, sering ditemukan kerancuan
antara pengertian ilmu dengan pengetahuan. Ke dua kata tersebut dianggap
memiliki persamaan arti, bahkan ilmu dan pengetahuan terkadang dirangkum menjadi satu kata majemuk yang
mengandung arti tersendiri. Hal ini sering kita jumpai dalam berbagai karangan
yang membicarakan tentang ilmu pengetahuan. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia ilmu disamakan dengan pengetahuan, sehingga ilmu adalah pengetahuan.
Namun jika kata pengetahuan dan kata ilmu tidak dirangkum menjadi satu kata
majemuk atau berdiri sendiri, akan tampak perbedaan antara keduanya.
Berdasarkan asal katanya, pengetahuan diambil dari kata dalam bahasa Inggris
yaitu knowledge. Sedangkan pengetahuan berasal dari kata Science. Tentunya dari dua asal kata itu
mempunyai makna yang berbeda.
B.
Perumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas maka dapat diangkat permasalahan :
1.
Dari
mana asalnya filsafat itu?
2.
Apakah
filsafat itu?
3.
Apakah ada perbedaan antara ilmu dengan
pengetahuan?
4.
Bagaimana perbedaan antara ilmu dengan
pengetahuan ?
C.
Tujuan
penulisan
Agar
kita dapat memahami dan mengetahui serta nantinya bisa mengungkapkan secara
detail arti filsafat ilmu, persamaan dan perbedaan antara ilmu dan pengetahuan
secara Etimologi dan Terminologi. Dan semoga kami sukses dalam mempersentasekan
makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Filsafat Ilmu
Filsafat
berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut bentuk kata,
philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos. Philos
berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan
hikmah. Dalam pengertian ini seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila
seluruh ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang
cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.
Pada
awalnya, kata sofia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan
dalam suatu pekerjaan, seperti perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan
selanjutnya, makna dari kata kemahiran ini lebih dikhususkan lagi untuk kecakapan
di bidang sya’ir dan musik. Makna ini kemudian berkembang lagi kepada jenis
pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni.
Sofia dalam arti yang terakhir ini, kemudian dirumuskan oleh Pythagoras bahwa
hanya Dzat Maha Tinggi (Allah) yang mampu melakukannya. Oleh karena itu,
manusia hanya dapat sampai pada sifat “pencipta kebijaksanaan”. Pythagoras
menyatakan: “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan
berusaha untuk mencapainya.
Harun
Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat diambil dari bahasa Yunani, filosofia.
Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang berarti mencintai
kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut Hadiwijono filsafat mengandung arti
sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan. Artinya, seseorang dapat disebut
berfilsafat ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam
pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian
ini lebih berarti sebagai himbauan
kepada kebijaksanaan.
Harun justru
membuat kompromi bahwa filsafat terambil dari dua bahasa, yaitu Fil diambil
dari bahasa Inggris dan Safah dari bahasa Arab. Sehingga kata filsafat, adalah
gabungan antara bahasa Inggris dan Arab. Berfilsafat artinya berpikir menurut
tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta
agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya.
Atas dasar itu, maka menurut Harun, secara etimologi filsafat dapat
didefinisikan sebagai:
1.
Pengetahuan tentang hikmah
2.
Pengetahuan tentang prinsip atau dasar
3.
Mencari kebenaran
4.
Membahas dasar dari apa yang dibahas
Menurut Mohammad Hatta, filsafat
dapat meluaskan pandangan, mempertajam pikiran, serta merentangkan
pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata. Sebab
itu filsafat dapat disebut juga berpikir merdeka dengan tiada dibatasi
kelanjutannya. Filsafat meninjau dengan pertanyaan “apa itu”, “dari mana” dan
“kemana”. Disini orang tidak mencari pengetahuan sebab akibat suatu masalah seperti halnya penyelidikan ilmu melainkan orang mencari tahu
tentang apa yang sebenarnya ada pada barang atau masalah itu, dari mana asalnya
dan kemana tujuannya.
Dengan
ini dapat kita ketahui bahwa banyak orang yang berpendapat tentang filsafat
ilmu, oleh sebab itu untuk mendefinisikan filsafat ilmu secara sederhana
didapat kesulitan. Untuk mendapatkan gambar singkat tentang pengertian filsafat
ilmu itu dapatlah kiranya dirangkum tiga medan telaah yang tercakup di dalam
filsafat ilmu tersebut:
1.
Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode
yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambang-lambang yang digunakan dan
terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan. Telaah
kritis ini dapat diarahkan untuk mengkaji ilmu empiric dan juga ilmu rasional,
juga untuk membahas studi-studi bidang etika dan estetika, studi kesejarahan,
antropologi, geologi, dan sebagainya. Dalam hubungan ini yang terutama sekali
ditelaah adalah ihwal penalaran dan teorinya. Metode yang ditelaah untuk
diangkat adalah biasa dinyatakan dengan istilah induktif, deduktif, hipotesis,
penemuan, verifikasi. Yang lebih mendalam lagi adalah telaah terhadap metode
yang dinyatakan dengan istilah eksperimentasi, pengukuran, klasifikasi, dan
idealisasi. Demikian yang paling banyak mendapat perhatian dalam telaah kritis
ini adalah teori umum mengenai lambang.
2.
Filsafat ilmu adalah upaya untuk mencari kejelasan
mengenai dasar-dasar konsep dan postulat mengenai ilmu dan upaya membuka tabir
dasar-dasar ke-empirisan, ke-rasional-an dan ke-pragmatis-an. Aspek filsafat
ini erat hubungannya dengan hal ihwal yang logis dan epistemologis. Jadi peran
filsafat ilmu disini adalah berganda. Pada sisi pertama, filsafat ilmu adalah
mencakup analisis kritis terhadap anggapan dasar. Pada sisi yang lain, filsafat
ilmu mencakup studi mengenai keyakinan tertentu.
3.
Filsafat ilmu adalah studi gabungan yang terdiri dari
beberapa studi beraneka macam yang ditujukan untuk menetapkan batas yang tegas
mengenai ilmu tertentu, untuk menguraikan pertautan atau antar hubungan yang
ada pada studi yang satu terhadap yang lain, dan untuk mengkaji implikasi
sumbangannya terhadap suatu teori, bak teori yang besifat semesta maupun teori
yang unsur-unsurnya terpakai dimana-mana. Yang termasuk teori dengan sifat
kesemestaannya ialah yang berkenaan dengan idealisme, materialisme,
positivisme, mekanisme, teologi, monisme, dan pluralisme.
Pengertian
filsafat secara terminologi sangat beragam, baik dalam ungkapan maupun titik
tekanannya. Bahkan menurut Moh. Hatta dan Langeveld mengatakan bahwa defenisi
filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri
dalam defenisinya. Oleh karena itu, biarkan saja seseorang meneliti filsafat
terlebih dahulu kemudian menyimpulkan sendiri.
B.
Perbedaan
antara Ilmu dan Pengetahuan
Sebelum
penjabaran tentang perbedaan
ilmu dan pengetahuan, perlu diuraikan
tentang pengertian ilmu
dan pengetahuan.
Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam mendalami perbedaan antara ilmu dan pengetahuan.
1.
ilmu
Pada
prinsipnya ilmu merupakan usaha untuk mengorganisir dan mensitematisasikan
sesuatu. Sesuatu tersebut dapat diperoleh dari pengalaman dan pengamatan dalam
kehidupan sehari-hari. Namun sesuatu itu dilanjutkan dengan pemikiran secara
cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu
dapat merupakan suatu metode berfikir secara objektif (objective thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi
makna terhadap dunia faktual. Ini diperoleh melalui observasi, eksperimen, dan
klasifikasi. Analisisnya merupakan hal yang objektif dengan menyampingkan unsur
pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh
kedirian atau subjektif). Ilmu sebagai milik manusia secara komprehensif yang
merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal
yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat
diamati panca indera manusia.
Ilmu
adalah kumpulan pengetahuan. Namun bukan sebaliknya kumpulan ilmu adalah
pengetahuan. Kumpulan pengetahuan agar dapat dikatakan ilmu harus memenuhi
syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek material
dan objek formal. Setiap bidang ilmu baik itu ilmu khusus maupun ilmu filsafat
harus memenuhi ke dua objek tersebut. Ilmu merupakan suatu bentuk aktiva yang
dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu lebih lengkap dan lebih
cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan kemudian serta suatu kemampuan
yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya.
Ada
tiga dasar ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dasar ontologi ilmu
mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia.
Jadi masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau bersifat empiris. Objek
empiris dapat berupa objek material seperti ide-ide, nilai-nilai, tumbuhan,
binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri.
Pada
umumnya metodologi yang digunakan dalam ilmu kealaman disebut siklus-empirik.
Ini menunjukkan pada dua macam hal yang pokok, yaitu siklus yang mengandaikan
adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan berulang-ulang, dan empirik yang menunjukkan
pada sifat bahan yang diselidiki, yaitu hal-hal yang dalam tingkatan pertama
dapat diregistrasi secara indrawi. Metode siklus-empirik mencakup lima tahapan
yang disebut observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi. Sifat
ilmiahnya terletak pada kelangsungan proses yang runut dari segenap tahapan
prosedur ilmiah tersebut, meskipun pada prakteknya tahap-tahap kerja tersebut
sering kali dilakukan secara bersamaan.
Ilmu
dalam usahanya untuk menyingkap rahasia-rahasia alam haruslah mengetahui
anggapan-anggapan kefilsafatan mengenai alam tersebut. Penegasan ilmu
diletakkan pada tolok ukur dari sisi fenomenal dan struktural.
2.
Pengetahuan
Secara
etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge.
Dalam Encyclopedia of
Philosophy dijelaskan bahwa difinisi pengetahuan adalah kepercayaan yang
benar (knowledge is justified true belief).
Sedangkan
secara terminologi definisi pengetahuan ada beberapa definisi.
a.
Pengetahuan adalah apa yang diketahui
atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan
tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi
pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia
untuk tahu.
b.
Pengetahuan adalah proses kehidupan yang
diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam hal ini yang
mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri
sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada
dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
c.
Pengetahuan adalah segenap apa yang kita
ketahui tentang suatu objek tertentu,
termasuk didalamnya ilmu, seni dan agama. Pengetahuan ini merupakan khasanah
kekayaan mental yang secara langsung dan tak langsung memperkaya kehidupan kita.
Pada
dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala
perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat
berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek
yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal, atau yang bersangkutan dengan
masalah kejiwaan.
Pengetahuan
adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik
maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu.
Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan
pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat
cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan
ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan
pengalaman belaka.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Filsafat ilmu memegang peranan yang
sangat penting dalam pengembangan keilmuan. Filsafat ilmu merupakan refleksi
secara filsafati akan hakekat ilmu yang tidak akan mengenal titik henti dalam
menuju sasaran yang hendak dicapai, yaitu kebenaran dan kenyataan. Memahami
filsafat ilmu berarti memahami seluk-beluk ilmu pengetahuan hingga segi-segi
dan sendi-sendinya yang paling mendasar, untuk dipahami pula perspektif ilmu,
kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar (cabang) ilmu yang satu
dengan yang lainnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa melalui upaya filsafat
ilmu, seseorang dapat meninjau dasar dan kedalaman ilmu hingga ke hakekatnya.
Tujuan filsafat ilmu adalah
memberikan pemahaman tentang apa dan bagaimana hakekat, sifat dan kedudukan
ilmu pengetahuan dan teknologi dalam cakrawala pengetahuan manusia. Di
samping itu filsafat ilmu juga memperluas
wawasan ilmiah sebagai kesiapan dalam menghadapi perkembangan ilmu dan
teknologi yang berlangsung dengan begitu cepat, spektakuler, mendasar, yang
secara intensif menyentuh semua segi dan sendi kehidupan dan secara intensif
merombak budaya manusia.
B.
Saran-saran
1.
Pentingnya pemahaman filsafat ilmu perlu
disosialisasikan sejak awal kepada mahasiswa ilmu politik dan pemerintahan agar
mereka lebih terbuka wawasan ilmiahnya, bahwasanya filsafat, ilmu, dan pengetahuan adalah saling terkait
dan tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya.
2.
Memasukkan mata kuliah filsafat ilmu ke
dalam kurikulum sudah tepat dalam kerangka peningkatan mutu akademik. Untuk
lebih menarik minat khalayak dalam mempelajari filsafat ilmu, serta untuk
menghilangkan ‘trauma’ bahwa bidang ini adalah sesuatu yang sulit dipelajari,
maka penulisan/ publikasi buku-buku tentang filsafat ilmu bisa diusahakan lebih
populer serta bersifat elementer agar tidak terkesan ‘berat’ dan lebih mudah
‘dicerna’.
3.
Kepada
pembaca makalah ini kami harap dapat membantu anda untuk mengetahui dan
memahami isi makalah kami dalam proses belajar khususnya filsafat ilmu. Kami
sangat berharap mendapat tambahan kritik dan sarannya, bila pembaca lebih
banyak mengetahui tentang filsafat ilmu, karena kami merasa bahwa makalah yang
kami buat masih sangat sederhana dan memiliki banyak kekurangan.
* Terima Kasih *
DAFTAR PUSTAKA
Lasiyo
dan Yuwono. 1985. Pengantar
Filsafat. Yogyakarta: Liberty.
Mustansyir, Rizal dan Misnal Munir. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Peursen, C.A. Van. 1989. Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Gramedia.
The Liang Gie. 1999. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Liberty.
Bakhtiar A. 2005. Filsafat Ilmu. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
No comments:
Post a Comment