Wednesday, 25 January 2017

BAHAN AJAR ASUHAN KEBIDANAN IV PATOLOGI





BAB I
BAHAN AJAR

MATA KULIAH             :      Asuhan kebidanan IV (Patologi)
KODE MATA KULIAH        :           Bd. 534
SKS                                   :      4 SKS ( T ; 1, P ; 3)
PERTEMUAN KE          :      3
WAKTU PERTEMUAN       :           2 x 50 menit
DOSEN                             :      MARLIANA

1.        Deskripsi Singkat Perkuliahan
Mata Kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu dengan kelainan atau komplikasi dengan pendekatan manajemen kebidanan dengan pokok bahasan: Patologi obstetric, penyakit-penyakit penyerta kehamilan, persalinan dan nifas dan gangguan system reproduksi, deteksi dini kelainan pada ibu hamil, bersalin dan nifas, prinsip-prinsip asuhan dalam penanganannya, rujukan dan pendokumentasiannya.
2.        Manfaat Mata Kuliah
Mata kuliah Asuhan Kebidanan IV patologi merupakan mata kuliah inti dalam kebidanan, karena mata kuliah ini berkaitan langsung dengan  peran dan fungsi bidan di masyarakat dalam memberikan asuhan kebidanan IV patologi yang tepat dan sesuai dengan standar asuhan yang ditetapkan.
3.        Sasaran Pembelajaran (TIU)
Setelah mengikuti pertemuan ini, mahasiswa diharapkan akan melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu dengan komplikasi, kelainan, penyakit dalam masa kehamilan.


BAB II
PENYAJIAN

A.    Pengertian Persalinan Sungsang
Kehamilan pada bayi dengan presentasi bokong (sungsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis (Manuaba,1998)
Letak sungsang adalah keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada dibawah kavum uteri             (Wiknjosastro, 2010).
Letak sungsang adalah jika bokong dengan atau kaki merupakan bagian terendah janin (Prawiroharjo, 2008).
B.     Etiologi
Faktor-faktor lain yang memegang peranan dalam terjadinya letak sungsang di antaranya ialah multipartas, hamil kembar, hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa, premature, mioma pada kehamilan dan panggul sempit. Kadang-kadang letak sungsang disebabkan oleh kelainan uterus dan kelainan bentuk uterus. Plasenta yang terletak di daerah kornu fundus uteri dapat pula menyebabkan letak sungsang, karena plasenta mengurangi luas ruangan di daerah fundus.


C.    Patofisiologi
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak, sehingga memungkinkan janin bergerak lebih leluasa. Dengan demikian janin dapat menempatkan diri dalam letak sungsang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan air ketuban relative berkurang. Karena bokong dengan kedua tungkai yang terlipat lebih besar dari pada kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas difundus uteri, sedangkan kepala berada pada ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi.
D.    Gambaran klinis
Data subyektif:
a.       Ibu mengatakan terasa penuh dibagian atas perut
b.      Ibu mengatakan gerakan janin terasa lebih banyak dibagian bawah
Data obyektif
Pada pemeriksaan luar dibagian bawah uterus tidak dapat diraba bagian yang keras dan bulat, yakni kepala, dan kepala teraba difundus uteri. Kadang- kadang bokong janin teraba bulat dan dapat memberi kesan seolah-olah kepala, tetapi bokong tidak dapat digerakkan seperti kepala semudah kepala. Denyut jantung janin pada umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada umbilicus. Pada pemeriksaan dalam setelah ketuban pecah, dapat diraba lebih jelas adanya bokong yang ditandai dengan adanya sacrum, kedua tuber ossisski, dan anus. Bila dapat diraba kaki, maka harus diberikan dengan tangan. Pada kaki terdapat tumit, sedangkan pada tangan ditemukan ibu jari yang letaknya tidak sejajar dengan jari-jari lain dan panjang jari kurang lebih sama dengan panjang telapak tangan. Pada persalinan lama, bokong janin mengalami edema, sehingga kadang-kadang sulit untuk membedakan bokong dengan muka. Pemeriksaan yang teliti dapat membedakan bokong dengan muka karena jari yang akan dimasukkan ke dalam anus mengalami rintangan otot, sedangkan jari yang dimasukkan ke dalam mulut akan meraba tulang rahang dan alveola tanpa ada hambatan. Pada presentasi bokong kaki sempurna, kedua kaki dapat diraba di samping bokong, sedangkan pada presentsi bokong kaki tidak sempurna, hanya teraba satu kai di samping bokong.
E.     Diagnosis
Palpasi : Kepala teraba di fundus, bagian bawah bokong, dan punggung di kiri atau kanan
Auskultasi : DJJ paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.
Pemeriksaan dalam
Dapat diraba os sokrum, tuberischii, dan anus kadang-kadang kaki (pada letak kaki). Bedakan antara : lubang kecil tulang (-), isap (-), mekoneum (+), tumit sudut 90o, rata jari-jari patella, poplitea, menghisap rahang lidah, jari panjang
tidak rata, patella (-).
Pemeriksaan foto roentgen : bayangan kepala di fundus.
Pemeriksaan USG
F.     Mekanisme persalinan
Bokong masuk kedalam rongga dengan garis pangkal paha melintang atau miring. Setelah menyentuh dasar panggul terjadi putaran paksi dalam, sehingga di pintu bawah panggul garis panggul paha menepati diameter anteposterior dan trokenter depan berada di bawah simfsis. Kemudian terjadi fleksi lateral pada badan janin, sehingga trokanter belakang melewati penerineum dan lahirlah seluruh bokong diikuti oleh kedua kaki. Setelah bokong lahir terjadi putaran paksi luar dengan perut janin berada di posterior yang memungkinkan bahu melewati pintu paksi atas panggul dengan garis terbesar bahu melintang atau miring. Terjadi putaran paksi dalam pada multiparitas dengan riwayat obstetric yang baik, tidak selalu menjamin persalinan dalam  letak sungsang akan berlangsung lancer, sebab janin yang besar dapat menyebabkan disproporsi meskipun ukuran panggul normal.
G.    Komplikasi
Komplikasi ibu
1.      Perdarahan
2.      Trauma jalan lahir
3.      Infeksi
Komplikasi anak
1.       Sufokasi / aspirasi :
Bila sebagian besar tubuh janin sudah lahir, terjadi pengecilan rongga uterus yang menyebabkan gangguan sirkulasi dan menimbulkan anoksia. Keadaan ini merangsang janin untuk bernafas dalam jalan lahir sehingga menyebabkan terjadinya aspirasi.
2.       Asfiksia :
Selain hal diatas, anoksia juga disebabkan oleh terjepitnya talipusat pada fase cepat
3.       Trauma intrakranial:
Terjadi sebagai akibat :
·         Panggul sempit
·         Dilatasi servik belum maksimal (after coming head)
·         Persalinan kepala terlalu cepat (fase lambat kedua terlalu cepat)
4.       Fraktura / dislokasi:
Terjadi akibat persalinan sungsang secara operatif
·         Fraktura tulang kepala
·         Fraktura humerus
·         Fraktura klavikula
·         Fraktura femur
·         Dislokasi bahu
5.       Paralisa nervus brachialis yang menyebabkan paralisa lengan terjadi akibat tekanan pada pleksus brachialis oleh jari-jari penolong saat melakukan traksi dan juga akibat regangan pada leher saat membebaskan lengan.
H.    Penatalaksanaan
Selama proses persalinan, resiko ibu dan anak jauh lebih besar dibandingkan persalinan pervaginam pada presentasi belakang kepala.
  1. Pada saat masuk kamar bersalin perlu dilakukan penilaian secara cepat dan cermat mengenai : keadaan selaput ketuban, fase persalinan, kondisi janin serta keadaan umum ibu.
  2. Dilakukan pengamatan cermat pada DJJ dan kualitas his dan kemajuan persalinan.
  3. Persiapan tenaga penolong persalinan – asisten penolong persalinan – dokter anak dan ahli anaesthesi.
Persalinan spontan pervaginam (spontan Bracht) terdiri dari 3 tahapan :
  1. Fase lambat pertama:
o    Mulai dari lahirnya bokong sampai umbilikus (scapula).
o    Disebut fase lambat oleh karena tahapan ini tidak perlu ditangani secara tergesa-gesa mengingat tidak ada bahaya pada ibu dan anak yang mungkin terjadi.
  1. Fase cepat:
o    Mulai lahirnya umbilikus sampai mulut.
o    Pada fase ini, kepala janin masuk panggul sehingga terjadi oklusi pembuluh darah talipusat antara kepala dengan tulang panggul sehingga sirkulasi uteroplasenta terganggu.
o    Disebut fase cepat oleh karena tahapan ini harus terselesaikan dalam 1 – 2 kali kontraksi uterus (sekitar 8 menit).
  1. Fase lambat kedua :
o    Mulai lahirnya mulut sampai seluruh kepala.
o    Fase ini disebut fase lambat oleh karena tahapan ini tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa untuk menghidari dekompresi kepala yang terlampau cepat yang dapat menyebabkan perdarahan intrakranial.
Tehnik pertolongan sungsang spontan pervaginam (spontan BRACHT )
  1. Pertolongan dimulai setelah bokong nampak di vulva dengan penampang sekitar 5 cm.
  2. Suntikkan 5 unit oksitosin i.m dengan tujuan bahwa dengan 1–2 his berikutnya fase cepat dalam persalinan sungsang spontan pervaginam akan terselesaikan.
  3. Dengan menggunakan tangan yang dilapisi oleh kain setengah basah, bokong janin dipegang sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari penolong berada pada bagian belakang pangkal paha dan empat jari-jari lain berada pada bokong janin (gambar 1)
  4. Pada saat ibu meneran, dilakukan gerakan mengarahkan punggung anak ke perut ibu ( gerak hiperlordosis )sampai kedua kaki anak lahir .
  5. Setelah kaki lahir, pegangan dirubah sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari sekarang berada pada lipatan paha bagian belakang dan ke empat jari-jari berada pada pinggang janin (gambar 2)
  6. Dengan pegangan tersebut, dilakukan gerakan hiperlordosis dilanjutkan ( gerak mendekatkan bokong anak pada perut ibu ) sedikit kearah kiri atau kearah kanan sesuai dengan posisi punggung anak.
  7. Gerakan hiperlordosis tersebut terus dilakukan sampai akhirnya lahir mulut-hidung-dahi dan seluruh kepala anak.
  8. Pada saat melahirkan kepala, asisten melakukan tekanan suprasimfisis searah jalan lahir dengan tujuan untuk mempertahankan posisi fleksi kepala janin
  9. Setelah anak lahir, perawatan dan pertolongan selanjutnya dilakukan seperti pada persalinan spontan pervaginam pada presentasi belakang kepala.






Gambar 1 : Pegangan panggul anak pada persalinan spontan Bracht
Gambar 2 Pegangan bokong anak pada persalinan spontan Bracht
1.    Prognosis
a.    Prognosis lebih buruk dibandingkan persalinan pada presentasi belakang kepala.
b.    Prognosa lebih buruk oleh karena:
·       Perkiraan besar anak sulit ditentukan sehingga sulit diantisipasi terjadinya peristiwa “after coming head”.
·       Kemungkinan ruptura perinei totalis lebih sering terjadi.
2.      Sebab kematian anak:
a.    Tali pusat terjepit saat fase cepat.
b.    Perdarahan intrakranial akibat dekompresi mendadak waktu melahirkan kepala anak pada fase lambat kedua.
c.    Trauma collumna vertebralis.
d.   Prolapsus talipusat.



Ekstraksi Parsial Pada Persalinan Sungsang Pervaginam (Manual Aid)
Terdiri dari 3 tahapan :
  1. Bokong sampai umbilikus lahir secara spontan (pada frank breech).
  2. Persalinan bahu dan lengan dibantu oleh penolong.
  3. Persalinan kepala dibantu oleh penolong.

PERSALINAN BAHU DAN LENGAN
Gambar 3 Pegangan “Femuro Pelvic” pada pertolongan persalinan sungsang pervaginam

  1. Pegangan pada panggul anak sedemikian rupa sehingga ibu jari penolong berdampingan pada os sacrum dengan kedua jari telunjuk pada krista iliaka anterior superior ; ibu jari pada sakrum sedangkan jari-jari lain berada didepan pangkal paha (gambar 3) .
  2. Dilakukan traksi curam kebawah sampai menemui rintangan (hambatan) jalan lahir.
  3. Selanjutnya bahu dapat dilahirkan dengan menggunakan salah satu dari cara-cara berikut:
    1. Lovset.
    2. Klasik.
    3. Müller.
1.    Persalinan bahu dengan cara LOVSET.
a.        Prinsip :
Memutar badan janin setengah lingkaran (1800) searah dan berlawanan arah jarum jam sambil melakukan traksi curam kebawah sehingga bahu yang semula dibelakang akan lahir didepan (dibawah simfsis).
Hal tersebut dapat terjadi oleh karena :
·       Adanya inklinasi panggul (sudut antara pintu atas panggul dengan sumbu panggul)
·       Adanya lengkungan jalan lahir dimana dinding sebelah depan lebih panjang dibanding lengkungan dinding sacrum disebelah belakang
Sehingga setiap saat bahu posterior akan berada pada posisi lebih rendah dibandingkan posisi bahu anterior
b.        Tehnik :
Gambar 4 Tubuh janin dipegang dengan pegangan femuropelvik.
Dilakukan pemutaran 1800 sambil melakukan traksi curam kebawah sehingga bahu belakang menjadi bahu depan dibawah arcus pubis dan dapat dilahirkan
Gambar 5 Sambil dilakukan traksi curam bawah, tubuh janin diputar 1800 kearah yang berlawanan sehingga bahu depan menjadi bahu depan dibawah arcus pubis dan dapat dilahirkan

Gambar 6 Tubuh janin diputar kembali 1800 kearah yang berlawanan sehingga bahu belakang kembali menjadi bahu depan dibawah arcus pubis dan dapat dilahirkan

c.    Keuntungan persalinan bahu dengan cara Lovset :
1.    Tehnik sederhana.
2.    Hampir selalu dapat dikerjakan tanpa melihat posisi lengan janin.
3.    Kemungkinan infeksi intrauterin minimal.
2.    Persalinan bahu dengan cara KLASIK
  • Disebut pula sebagai tehnik DEVENTER.
  • Melahirkan lengan belakang dahulu dan kemudian melahirkan lengan depan dibawah simfisis.
  • Dipilih bila bahu tersangkut di pintu atas panggul.

a.    Prinsip :
Melahirkan lengan belakang lebih dulu (oleh karena ruangan panggul sebelah belakang/sacrum relatif lebih luas didepan ruang panggul sebelah depan) dan kemudian melahirkan lengan depan dibawah arcus pubis.
b.   Tehnik :
Gambar 7 Melahirkan lengan belakang pada tehnik melahirkan bahu cara KLASIK

Gambar 8 Melahirkan lengan depan pada tehnik melahirkan bahu cara KLASIK
  1. Kedua pergelangan kaki dipegang dengan ujung jari tangan kanan penolong berada diantara kedua pergelangan kaki anak , kemudian di elevasi sejauh mungkin dengan gerakan mendekatkan perut anak pada perut ibu.
  2. Tangan kiri penolong dimasukkan kedalam jalan lahir, jari tengan dan telunjuk tangan kiri menyelusuri bahu sampai menemukan fosa cubiti dan kemudian dengan gerakan “mengusap muka janin , lengan posterior bawah bagian anak dilahirkan.
  3. Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan kaki janin diubah.
Dengan tangan kanan penolong, pergelangan kaki janin dipegang dan sambil dilakukan traksi curam bawah melakukan gerakan seolah “mendekatkan punggung janin pada punggung ibu” dan kemudian lengan depan dilahirkan dengan cara yang sama.
Bila dengan cara tersebut pada no 3 diatas lengan depan sulit untuk dilahirkan, maka lengan tersebut diubah menjadi lengan belakang dengan cara:
Ø  Gelang bahu dan lengan yang sudah lahir dicekap dengan kedua tangan penolong sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari penolong terletak dipunggung anak dan sejajar dengan sumbu badan janin ; sedangkan jari-jari lain didepan dada.
Ø  Dilakukan pemutaran tubuh anak kearah perut dan dada anak sehingga lengan depan menjadi terletak dibelakang dan dilahirkan dengan cara yang sudah dijelaskan pada no 2
Keuntungan : Umumnya selalu dapat dikerjakan pada persalinan bahu
Kerugian : Masuknya tangan kedalam jalan lahir meningkatkan resiko infeksi
3.    Persalinan bahu dengan cara MUELLER
a.    Prinsip
·       Melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dibawah simfisis melalui ekstraksi ; disusul melahirkan lengan belakang di belakang (depan sacrum)
·       Dipilih bila bahu tersangkut di Pintu Bawah Panggul
Gambar 9 (kiri) Melahirkan bahu depan dengan ekstraksi pada bokong dan bila perlu dibantu dengan telunjuk jari tangan kanan untuk mengeluarkan lengan depan
Gambar 10 (kanan) Melahirkan lengan belakang (inset : mengait lengan atas dengan telunjuk jari tangan kiri penolong)

Tehnik pertolongan persalinan bahu cara MUELLER:
  1. Bokong dipegang dengan pegangan “femuropelvik”.
  2. Dengan cara pegangan tersebut, dilakukan traksi curam bawah pada tubuh janin sampai bahu depan lahir (gambar 9 ) dibawah arcus pubis dan selanjutnya lengan depan dilahirkan dengan mengait lengan depan bagian bawah.
  3. Setelah bahu dan lengan depan lahir, pergelangan kaki dicekap dengan tangan kanan dan dilakukan elevasi serta traksi keatas (gambar 10),, traksi dan elevasi sesuai arah tanda panah) sampai bahu belakang lahir dengan sendirinya. Bila tidak dapat lahir dengan sendirinya, dilakukan kaitan untuk melahirkan lengan belakang anak (inset pada gambar 10)
Keuntungan : penggunaan tehnik ini adalah oleh karena tangan penolong tidak masuk terlalu jauh kedalam jalan lahir maka resiko infeksi berkurang.

MELAHIRKAN LENGAN MENUNJUK
Nuchal Arm
Yang dimaksud dengan keadaan ini adalah bila pada persalinan sungsang, salah satu lengan anak berada dibelakang leher dan menunjuk kesatu arah tertentu.
Pada situasi seperti ini, persalinan bahu tidak dapat terjadi sebelum lengan yang bersangkutan dirubah menjadi didepan dada.
Gambar 11 Lengan menunjuk ( “ nuchal arm”)
Bila lengan yang menunjuk adalah lengan posterior : (dekat dengan sakrum)
  1. Tubuh janin dicekap sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari penolong berada dipunggung anak sejajar dengan sumbu tubuh anak dan jari-jari lain didepan dada.
  2. Badan anak diputar 1800 searah dengan menunjuknya lengan yang dibelakang leher sehingga lengan tersebut akan menjadi berada didepan dada (menjadi lengan depan).
  3. Selanjutnya lengan depan dilahirkan dengan tehnik persalinan bahu cara KLASIK.
Gambar 12 Lengan kiri menunjuk kekanan
Gambar 13 Tubuh anak diputar searah dengan menunjuknya lengan (kekanan)

Gambar 14 Menurunkan lengan anak
Bila lengan yang menunjuk adalah lengan anterior : (dekat dengan sinfisis) maka :
Penanganan dilakukan dengan cara yang sama, perbedaan terletak pada cara memegang tubuh anak dimana pada keadaan ini kedua ibu jari penolong berada didepan dada sementara jari-jari lain dipunggung janin.

MELAHIRKAN LENGAN MENJUNGKIT
Yang dimaksud dengan lengan menjungkit adalah suatu keadaan dimana pada persalinan sungsang pervaginam lengan anak lurus disamping kepala. Keadaan ini menyulitkan terjadinya persalinan spontan pervaginam. Cara terbaik untuk mengatasi keadaan ini adalah melahirkan lengan anak dengan cara LOVSET.
Gambar 15. Melahirkan lengan menjungkit
Bila terjadi kemacetan bahu dan lengan saat melakukan pertolongan persalinan sungsang secara spontan (Bracht), lakukan pemeriksaan lanjut untuk memastikan bahwa kemacetan tersebut tidak disebabkan oleh lengan yang menjungkit.

PERSALINAN KEPALA (After Coming Head)
Pertolongan untuk melahirkan kepala pada presentasi sungsang dapat dilakukan dengan berbagai cara :
  1. Cara MOURICEAU
  2. Cara PRAGUE TERBALIK







a.    Cara MOURICEAU (Viet–Smellie)

Gambar 16 Tehnik Mouriceau
Dengan tangan penolong yang sesuai dengan arah menghadapnya muka janin, jari tengah dimasukkan kedalam mulut janin dan jari telunjuk serta jari manis diletakkan pada fosa canina.
1.    Tubuh anak diletakkan diatas lengan anak, seolah anak “menunggang kuda”.
2.    Belakang leher anak dicekap diantara jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain.
3.    Assisten membantu dengan melakukan tekanan pada daerah suprasimfisis untuk mempertahankan posisi fleksi kepala janin.
4.    Traksi curam bawah terutama dilakukan oleh tangan yang dileher.
b.   Cara PRAGUE TERBALIK
1.    Dilakukan bila occiput dibelakang (dekat dengan sacrum) dan muka janin menghadap simfisis.
2.    Satu tangan mencekap leher dari sebelah belakang dan punggung anak diletakkan diatas telapak tangan tersebut.
3.    Tangan penolong lain memegang pergelangan kaki dan kemudian di elevasi keatas sambil melakukan traksi pada bahu janin sedemikian rupa sehingga perut anak mendekati perut ibu.
Dengan larynx sebagai hypomochlion kepala anak dilahirkan.
                   Gambar 17 Persalinan kepala dengan tehnik Prague terbalik
EKSTRAKSI TOTAL PADA PERSALINAN SUNGSANG PERVAGINAM
Persalinan sungsang pervaginam dimana keseluruhan proses persalinan anak dikerjakan sepenuhnya oleh penolong persalinan.
Jenis ekstraksi total :
1.    Ekstraksi bokong
2.    Ekstraksi kaki





A.      EKSTRAKSI BOKONG
Tindakan ini dikerjakan pada letak bokong murni dengan bokong yang sudah berada didasar panggul.
1.      Tehnik :
a.    Jari telunjuk penolong yang sesuai dengan bagian kecil anak dimasukkan jalan lahir dan diletakkan pada lipat paha depan anak. Dengan jari tersebut, lipat paha dikait. Untuk memperkuat kaitan tersebut, tangan lain penolong mencekap pergelangan tangan yang melakukan kaitan dan ikut melakukan traksi kebawah (gambar 18 dan 19)
b.    Bila dengan traksi tersebut trochanter depan sudah terlihat dibawah arcus pubis, jari telunjuk tangan lain segera mengait lipat paha belakang dan secara serentak melakukan traksi lebih lanjut untuk melahirkan bokong (gambar 20)
c.    Setelah bokong lahir, bokong dipegang dengan pegangan “femuropelvik” dan janin dilahirkan dengan cara yang sudah dijelaskan pada ekstraksi bokong parsialis.
Gambar 18 Kaitan pada lipat paha depan untuk melahirkan trochanter depan
Gambar 19 Untuk memperkuat traksi bokong, dilakukan traksi dengan menggunakan kedua tangan seperti terlihat pada gambar.

Gambar 20 Traksi dengan kedua jari untuk melahirkan bokong
B.       EKSTRAKSI KAKI
1.    Kedua tangan penolong memegang betis anak dengan meletakkan kedua ibu jari dibelakang betis sejajar dengan sumbu panjangnya dan jari-jari lain didepan tulang kering. Dengan pegangan ini dilakukan traksi curam bawah pada kaki sampai pangkal paha lahir.
2.    Pegangan kini dipindahkan keatas setinggi mungkin dengan kedua ibu jari  dibelakang paha pada sejajar sumbu panjangnya dan jari lain didepan paha. Dengan pegangan ini pangkal paha ditarik curam bawah sampai
gambar 24  trochanter depan lahir
  1. Kemudian dilakukan traksi curam atas pada pangkal paha untuk melahirkan trochanter belakang sehingga akhirnya seluruh bokong lahir.
Gambar 25
  1. Setelah bokong lahir, dilakukan pegangan femuropelvik dan dilakukan traksi curam dan selanjutnya untuk menyelesaikan persalinan bahu dan lengan serta kepala seperti yang sudah dijelaskan.
Gambar 26. Terlihat bagaimana cara melakukan pegangan pada pergelangan kaki anak. Sebaiknya digunakan kain setengah basah untuk mengatasi licinnya tubuh anak ; Traksi curam bawah untuk melahirkan lengan sampai skapula depan terlihat .

Gambar 27. Pegangan selanjutnya adalah dengan memegang bokong dan panggul janin (jangan diatas panggul anak). Jangan lakukan gerakan rotasi sebelum skapula terlihat.

Gambar 28. Skapula sudah terlihat, rotasi tubuh sudah boleh dikerjakan
Gambar 29. Dilakukan traksi curam atas untuk melahirkan bahu belakang yang diikuti dengan gerakan untuk membebaskan lengan belakang lebih lanjut.
Gambar 30. Persalinan bahu depan melalui traksi curam bahwa setelah bahu belakang dilahirkan ; Lengan depan dilahirkan dengan cara yang sama dengan melahirkan lengan belakang









BAB III
PENUTUP

A.    Rangkuman
Penyulit dan komplikasi persalinan pada ibu bersalin terdiri dari 3 macam, power, passage, dan passenger. Dalam materi ini dibahas komplikasi persalinan yang dikarenakan passenger (janin) yaitu letak lintang dan letak sungsang serta cara melahirkannya dengan cara lovset, klasik dan muller dengan melahirkan kepala teknik mauriciau.
B.       Tes Formatif
1.    Melahirkan lengan belakang lebih dulu (oleh karena ruangan panggul sebelah belakang/sacrum relatif lebih luas didepan ruang panggul sebelah depan) dan kemudian melahirkan lengan depan dibawah arcus pubis adalah melahirkan dengan teknik…
a.    Klasik
b.    Muller
c.    Lovset
d.   Mauriciau
e.    Bracth
2.    Salah satu melahirkan letak sungsang dengan ekstraksi bokong adalah teknik…
a.    Klasik
b.    Muller
c.    Lovset
d.   Mauriciau
e.    Bracth
3.    Melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dibawah sisfisis melalui ekstraksi, disusul melahirkan lengan belakang adalah melahirkan sungsang dengan teknik…
a.    Klasik
b.   Muller
c.    Lovset
d.   Mauriciau
e.    Bracth
4.      Tangan penolong sesuai dengan arah menghadapnya muka janin, jari tengan dimasukkan ke dalam mulut janin dan jari telunjuk serta jari manis diletakkan pada fosa canina adalah melahirkan dengan teknik…
a.    Klasik
b.   Muller
c.    Lovset
d.   Mauriciau
e.    Bracth
5.      Berikut ini adalah teknik melahirkan badan dengan letak sungsang, kecuali
a.    Klasik
b.   Muller
c.    Lovset
d.   Mauriceau
e.    Bracth
C.      Kunci jawaban
1.      a
2.      e
3.      b
4.      d
5.      d

D.    Tindak Lanjut
Cocokkanlah hasil jawaban Anda dengan kunci jawaban yang ada pada akhir pembelajaran ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar, kemudian gunakanlah rumus (formula) di bawah ini untuk mengetahui skor jawaban Anda.
Kategori tingkat penguasaan yang Anda capai:

Keterangan :
> 81 % = Baik
60 – 80 % = Cukup
< 60 % = Kurang
Jika tingkat kategori penguasaan Anda sudah baik, maka lanjutkanlah ke bab selanjutnya. Tetapi bila penguasaan Anda masih dalam tingkat kategori cukup, apalagi kurang, maka cobalah mempelajari ulang seluruh materi modul ini sehingga penguasaan Anda pada tes formatif berikutnya berada pada tingkat kategori baik.